Minggu, 07 November 2010

Mbah Maridjan, Merapi, Bencana, Kegigihan, Tersesat , melawan kehendak ALLOH SWT

Mbah Maridjan tokoh "Merapi" yang tidak mudah dirayu untuk mengevakuasi diri dari ancaman Merapi. Karena kegigihannya sebagian orang telah terlena bahwa apapun yang disampaikan oleh Mbah Maridjan adalah lebih benar dan lebih tahu tentang Merapi. Sadar atau tidak apa yang dilakukan beliau telah berlawanan dengan sekian banyak orang yang juga mengamati, mempelajari,memprediksi apa yang akan terjadi di "Merapi". Mbah Maridjan lupa bahwa sekian banyak orang tadi memprediksi dengan menggunakan alat dan dari beberapa disiplin Ilmu, belum sebanding dan tidak akan sebanding kalau dibandingkan dengan kekuasaan Allho SWT. Menurut penulis mesthinya Mbah Maridjan membantu menyadarkan warga sekitar Merapi bahwa sudah saatnya mengungsi adalah yang apling tepat karena kondisi Merapi sudah berbahaya. Persoalan di pengungsian dan sesudah mengungsi sudah seharusnya menjadi tugas pokok dan kewajiban pemerintah (pusat/daerah) melalui anggaran masing-masing. Toh sekian banyak rakyat Indonesia dan juga dari luar Indonesia mengalir ke dompet "Peduli Merapi". Dari media dapat kita saksikan Milyaran uang terkumpul, belum lagi kalau ditambah dari anggaran pemerintah. Tentu pemulihan pengungsi setidaknya akan teratasi walau tidak 100%. Sudah semesthiya pula bahwa tidak melawan erupsi Merapi dengan mengandalkan perasaan. Apa iya melawan erupsi abu panas dengan kekuatan perasaan dan kemampuan Fisik ?? Kalau menahan bola karena tendangan pemain bola, tentu masih mungkin. Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapapun, namun menurut penulis kejadian ini harus dijadikan pelajaran, dan harus berdampak bahwa kita tidak akan takabur karena kita merasa "dukun", "paranormal", "jagoan", "pendekar" atau apapun namanya. Yang namanya bencana tentu tidak akan menimpa hanya yang korupsi, atau penjahat atau orang-orang kafir saja, namun orang yang hanya ikut-ikutan pemahaman yang salah juga terkena bencana. Kalau memang jiwa lebih berharga dari harta benda, tentu yang mengungsi masih dapat merasakan mie instan atau yang lain, sedangkan yang terkubur abu panas sudah kehabisan jatah tinggal di alam dunia. Andai pada bencana sebelumnya sesorang atau sekelompok orang selamat dari maut, tentunya tidak boleh berakibat bahwa dirinya mempunyai kekuatan supra untuk melindungi dirinya. Rasulpun hanya dapat selamat dari ancaman bahaya bila mendapat mukjizat dari Alloh SWT. Bila sampai mukjizat diberikan lebih dari satu untuk kejadian yang sama, tentu seorang Rasulpun akan menjadi "sombong". Oleh karena itu siapapun yang berbicara dengan lantang bahwa dirinya "kuat" dan bisa diulang-ulang untuk kejadian yang sama ataupun situasi yang berbeda, tentu orang tersebut sudah menjadi "hamba setan", dikarenakan sombong memang merupakan ciri-ciri aliran sesat alias aliran setan. Belajar dari pengalaman diri sendiri maupun dari orang lain tentu akan membuat diri kita meningkat kualitas pemahaman dan cara memaknai hidup ini(bersambung)