Minggu, 17 Maret 2013

Prediksi UN SMA 2013

Latar belakang artikel ini adalah tatib pengawas ruang UN 2013, yang diantaranya adalah ....9. mewajibkan peserta ujian untu kemisahkan LJUN dengan naskah, sehingga menurut dugaan saya bahwa kode paket soal UN bukan seperti tahun 2011/2012 dengan kode A81, C61 dll, melainkan memakai kode yang tidak terbaca secara kasat mata, misalnya memakai barcode (tanpa mencantumkan kode angka atau huruf). Langkah ini memang bisa dilakukan selama pemeriksaan LJUN menggunakan scanner.

Bila hal tersebut di atas benar, maka pemerintah telah mengambil langkah yang tepat dalam hal mengurangi kecurangan dalam proses UN. Yang akan menjadi pertanyaan baru adalah apakah pemerintah mengeluarkan nilai UN nanti masih asli atau tidak asli. Tidak asli yang saya maksud adalah bahwa seandainya nilai asli 5,00 tetapi sudah ditambah 3,00 sehingga peserta tersebut mendapat nilai UN 8,00  maka peserta UN tetap saja mendapat "kebanggaan palsu".

Bila dibandingkan dengan seorang guru yang eberi nilai kepada siswanya 9,00 bisa jadi nilai tersebut memang bukan bilai murni tetapi nilai yang sudah diolah dengan penilaian dari aspek yang lain, semisal tugas, ulangan harian, remidial dll, dan memang seorang guru dalam memberi nilai tidak menytakan nilai "murni".

Bagaimama sistem UN yang telah dirancang sedemkian rupa namun tetap beredar "sms" yang berisi seperti bocoran kunci jawaban (seperti yang dilansir banyak media elektronik maupun cetak) pada UN tahun pelajaran sebelum 2012/2013?

Saya ingin menduga saja bahwa hal tersebut dimungkinkan karena beberapa hal berikut:
  1. Kunci jawaban memang disebarkan oleh pihak atau oknum yang tahu atau mengetahui kunci jawaban sebelum jadwal pelaksanaan UN berlangsung.
  2. Apabila dalam satu provinsi paket dos naskah soal UN tidak sama antara kabupaten atau kota yang satu dengan yang lain, maka kebocoran dari tingkat provinsi sangat kecil, karena belum tahu dos naskah soal paket tertentu akan didistribusikan ke kabupaten atau kota mana kecuali panitia UN tingkat provinsi.
  3. Apabila dos naskah soal UN disimpan dalam waktu yang relatif cukup lama untuk terjadinya pembukaan segel untuk proses kecurangan (pembocoran soal UN) di tingkat kabupaten atau kota, maka dapat dengan mudah diduga bahwa kebocoran UN terjadi pada panitia UN tingkat kabupaten atau kota termasuk tim pengamanan naskah UN.
  4. Apabila penyimpanan di tingkat sub Rayon dalam hal ini yang penulis tahu disimpan di kantor Polsek setempat, apabila memungkinkan terjadi kebocoran maka pelakunya adalah di tingkat sub Rayon termasuk petugas Polsek dan Panitia dari PTN pada wilayah tersebut.
  5. Kebocoran di tingkat sekolah penyelenggara hampir bisa dipastikan tidak mungkin, dikarenakan waktu yang tidak cukup untuk membocorkan soal UN.
  6. Seandainya sekolah penyeleggara melakukan kecurangan, maka tidak dapat dikategorikan kebocoran, tetapi kecurangan pelaksanaan UN.
Tentu sangat menarik untuk menyimak dan terus mengkuti perkembangan pelaksanaan UN 2013 yang akan segera dilaksanakan untuk tingkat SMA/MA dan SMP/MTs pada tahun pelajaran 2012/2013.